GLOBALISASI DALAM ISLAM
GLOBALISASI DALAM ISLAM
Globalisasi berasal dari kata global dan globe. Global
berarti seluruhnya, menyeluruh, garis besar, umumnya, kotornya, secara utuh.
Globe adalah tempat hunian manusia dan sering diidentikkan dengan kata
internasional yaitu hubungan antar bangsa dan negara. Globalisasi yang dimaksud
di sini adalah kecenderungan perilaku hidup dan kehiduapn manusia untuk saling
terkait, baik antarindividu atau antarbangsa, yang dihubungkan dengan sarana
dan prasarana yang canggih mutakhir sehingga dikenal politik global, ekonomi
global, komunikasi global dan lain sebagainya. Era globalisasi adalah tahapan
perkembangan globalisasi yang sesuai dengan perkembangan sarana prasarana
pendukung yang bersubstansi pada tahap dan tingkat kebutuhan manusia untuk
saling berhubungan demi kebutuhannya.
Modernisasi berasal dari kata modern yang berarti baru,
kekinian, akhir, up to date.Modern juga bisa dikatakan lawan dari kata lama,
dahulu, awal, dan tidak up to date. Istilah modern inin bisa diterapkan dalam
semua aspek kehidupan dari pola pikir, kebiasaan kerja, dan sikap hati. Elemen-elemen
penting modernisasi adalah industrialisasi dan kemajuan teknologi dan identic
dengan westernisasi. Dampak dari westernisasi adalah sekularisme, yaitu
pemisahan agama dari kehidupan sehari-hari dan pengutamaan ilmu pengetahuan
serta teknologi sebagai pedoman hidup, sehingga muncul anggapan bahwa sains
adalah "agama baru" era modern. Modernisasi juga ditandai oleh
pendekatan yang ilmiah, logis, dan berbasis sains. Namun, agama sering dianggap
tidak ilmiah atau tidak logis oleh sebagian pihak yang tidak mampu menempatkan
perannya secara proporsional.
Sejarah mencatat konflik antara Timur dan Barat, seperti
peperangan dan perang dunia, sebenarnya lebih merupakan konflik kelompok
tertentu. Saat ini, peradaban Timur dan Barat sering bertemu dalam kerja sama
ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan. Peradaban Barat sendiri berhutang pada
Timur, khususnya melalui penerjemahan karya-karya Yunani pada masa keemasan
Islam di Andalusia. Menteri Luar Negeri Inggris, Robin Cook, bahkan mengakui
bahwa peradaban Barat tidak hanya berasal dari Romawi dan Yunani, tetapi juga
dari Islam.
Islam bagi bangsa tertentu dapat dianggap kemunduran dan
kemajuan dalam teknologi dapat diartikan juga dengan kemunduran semua dilihat
dari sudut kemanfaatan dan subjektivitas nilai yang dianut. Islam mengajarkan
hubungan yang ideal manusia secara vertikal kepada Tuhannya dan horizontal
kepada makhluk hidup selainnya dan alam semesta.
Negara yang mempunyai teknologi tinggi dan canggih terkadang
melupakan pesan moral atau bahkan melupakan agama sehingga banyak kerusakan,
kemunduran, dan perendahan martabat manusia yang seharusnya meninggikan
memperbaiki dan memajukan manusia dan martabatnya. Islam mendorong umatnya
mengunakan akalnya untuk berpikir secara integral dan kompherensif sesuai
firman Allah (Q.s Ali Imran: 190-191). Dalam ayat tesebut terdapat tiga aspek
terkait dorongan berpikir integral-holistik yakni:
1.
Ulul albab (akal) yang berarti tuntutan
manusia sebagai makhluk berakal supaya mengunakan akalnya secara maksimal.
2.
Dzikrullah (hati) manusia sebagai makhluk
yang mempunyai hati nurani supaya mengunakan hatinya dalam menilai dan
mempertimbangkan segala sesuatu, karena manusia diberi kesucian fitrah asal
penciptaan yang berbentuk hati nurani.
3.
Tafakkur (pikir) yang berarti berpikir
lanjutan dari pengunaan akal adalah berpikir yang tentunya dengan
sistematis-analitis-ilmiah supaya dalam berpikir berpijak dalam kebenaran,
berproses secara benar, dan akhirnya hasil pemikirannya dapat dioperasionalkan
dan diterapkan dengan manfaat yang banyak.
Islam mendorong umatnya dalam memajukan ilmu pengetahuan dan
teknologi dan tetap mengutamakan asas kemanfaatan dan akhlak mulia sehingga
selain memajukan sikap yang harus dipegang umat Islam adalah selektif terhadap
perkembangan ilmu dan teknologi dan memilih apa yang bermanfaat terhadap
agamanya. Dalam perkembangan ilmu dan teknologi terdapat tiga landasan akhlak,
yakni:
1.
Akhlak terhadap Allah: tauhid (Q.S.
Al-Ikhlas: 1-4), takwa (Q.S. Ali Imran: 1-2), doa (Q.S. al-Mu’minun: 60),
dzikrullah (Q.S. al-Baqarah: 152), tawakkal (Q.S. Ali Imran: 159).
2.
Akhlak kepada masyarakat: persaudaraan
(Q.S. al-Hujarat: 10), tolong-menolong (Q.S. Al-Maidah: 2), adil (Q.S. an-Nisa:
58).
3.
Akhlak kepada alam: merenunggi ciptaan
(Q.S. Ali Imran: 190), memanfaatkan alam (Q.S. Yunus: 101), memelihara alam
(Q.S. al-Baqarah: 11). Semua cabang keilmuwan dan pengembangan teknologi harus
melihat dan medasarkan pada relasi manusia secara integral-holistik (Allah-manusia-alam).
Kemajuan pesat Ipteks harus diimbangi dengan kemantapan
moral dan agama jika tidak maka kemajuan ini akan membalik dan menguasai
manusia sebagai budak ilmu pengetahuan yang tidak memanusiakan manusia dan digitalisasi
yang menjauhkan manusia dari kehidupan sosial dan lain sebagainya.
Pendidikan Islam harus menciptakan perubahan yakni:
1.
rekonstruksi paradigma pendidikan Islam yang
berbasis kontekstual kritis.
2.
reorientasi kurikulum pendidikan Islam.
3.
reorientasi manajemen dan pengembangan sumber
daya manusia yang Islami.
4.
demokratisasi pendidikan Islam dan penciptaan
lembaga pendidikan Islam alternatif.
Komentar
Posting Komentar